Dita Rosa Utami Dita Rosa Utami Author
Title: Hamaki Tin
Author: Dita Rosa Utami
Rating 5 of 5 Des:
Karya : Dita Rosa Utami   Berkali kubunyikan klakson agar orang-orang di depan minggir. Mereka memadati jalanan. Kepalaku pus...

Karya : Dita Rosa Utami

 

Berkali kubunyikan klakson agar orang-orang di depan minggir. Mereka memadati jalanan. Kepalaku pusing, ditambah lagi suamiku menelepon berkali-kali. Dia seperti tak mengerti kesibukan pegawai bank sepertiku. Dia suka protes kalau aku pulang terlambat. Menyebalkan!


 Ah, iya, baru kuingat ini malam imlek, wajar jika daerah ini ramai. Aku berada di daerah Pondok, pemukiman warga Tionghoa di Kota Padang. Mobilku benar-benar terhambat lalu lintas.

Di luar sedang rinai, kulihat barongsai dan lampion berarak-arak. Kupinggirkan mobil dan kumatikan mesinnya. Aku bersandar. Kulihat embun menebal di kaca mobil, bibirku tersenyum, bersama cahaya oranye lampion aku terbang ke masa itu, menuju dia yang masih menari di pikiranku.

Enam tahun lalu aku menemukannya di facebook, nama akunnya Hamaki Tin. Kutanya apakah dia orang Jepang, katanya tidak. Dia orang Padang sama sepertiku. Aku tidak langsung percaya, karena matanya sipit dan kulitnya putih bagai susu. Berhari-hari terus saja kuinterogasi dia karena penasaran. Saat itu suasana hatiku sedang buruk, pacarku baru saja memutuskan hubungan, demikian kucari hiburan lewat Hamaki.

Dia mengaku risih karena terus kutanyai, ya sudah, kuputuskan tidak menginterogasi dia lagi. Kemudian malah dia yang mencariku. Dia mulai mengirim pesan, menanyakan kabarku, kegiatanku, dan alamatku. Aku kira dia sudah terjebak rindu.

Kami jadi sering mengobrol. Aku tahu dia tinggal di daerah Pondok, dia keturunan Tionghoa, tingginya 176 cm, ukuran sepatunya 42, dan kami satu universitas. Tapi, kenapa aku tidak pernah melihat dia di kampus?

 Tapi satu hal yang membuatku gondok, dia tidak mau memberi tahu nama aslinya. Hamaki Tin, itu bukan nama aslinya. Alasan dia memakai nama Hamaki Tin untuk username-nya karena ia suka anime dan kartun Tin Tin.

Semester baru menyapa, takdir kembali bermain-main, aku bahkan tidak bisa mempercayainya sampai sekarang. Waktu itu kami mengambil kelas yang sama untuk satu mata kuliah. Kelas yang sama bukan berarti semakin akrab, kami justru pura-pura tidak saling kenal. Atau mungkin dia memang tidak mengenalku? Di sanalah aku tahu kalau nama aslinya Daniel.

Ternyata dia mengenalku, saat ulang tahunku Hamaki Tin menjadi orang pertama yang memberi selamat. Tepat pukul nol nol. Mantan pacarku saja tidak peduli. Dia senang karena kami satu kelas. Sejak itu hubungan kami makin dekat, kami bahkan sering mengerjakan tugas bersama di rumahku. Tapi, sepertinya ayah tidak menyukainya, aku disuruh jaga jarak dengan Daniel.

Aku tidak mudah menyerah, kami tetap bersama. Dia baik dan perhatian, sering memberiku cokelat, juga sering membuat lelucon yang mengocok perutku. Matanya akan tenggelam saat dia tertawa. Aku suka matanya!

Sore itu gerimis turun, kami jalan-jalan ke kelenteng. Sebelumnya aku pernah bilang kalau aku penasaran dengan kelenteng di daerah Pondok, aku mau masuk ke sana. Hamaki Tin mengambil sesuatu seperti lidi lalu mengipas-ngipaskan ke arah patung dewa. Dia sedang berdoa. Sementara aku menonton saja dari ujung kelenteng, duduk di lantai kayu cokelat.

Saat itulah aku sadar jika Hamaki Tin sudah berada di hatiku. Aku tersenyum, tapi ada ketidakmampuan yang besar di hati. Ini alasannya ayah menginginkan aku menjauh dari Daniel. Meski kami sangat dekat, tembok keras itu menolak dengan lantang.

Dia duduk di sampingku usai berdoa. Bibirnya tersenyum, matanya menatap lembut mataku, kemudian terucap kata-kata yang kutakuti.

“Aku sayang padamu, Alina. Maukah kamu menjadi kekasihku?” Suaranya lembut menggenggam jantungku. Aku diam saja, sampai dia bertanya berkali-kali.

“Aku tidak akan jawab sekarang,” kataku.

“Oke. Bisa aku mendengar jawabanmu saat malam imlek?” pintanya. Aku mengangguk.

Aku memikirkan itu berhari-hari, memikirkan jawabanku. Aku tak mengelak tentang rinduku untuknya, tentang alunan ambisi untuk dipeluknya, tentang keindahan yang selalu mengikat waktu-waktu bersama Hamaki Tin. Hanya saja, aku pikir tidak seharusnya aku mengenalnya. Keluargaku dan mungkin keluarganya tidak akan menyetujui hubungan kami. Tidakkah dia pikirkan itu? Tidakkah Hamaki Tin pikirkan perbedaan keyakinan di antara kami? Aku muslim sedangkan dia Buddha.

Bahkan sebelum ini aku putus dengan pacarku setelah tiga tahun pacaran, hanya karena aku suka pedas sedang dia suka kecap. Dia bilang kami tidak akan sanggup menopang perbedaan semacam itu. Sederhana bukan?

***

Malam imlek tiba, kami melangkah di jalanan yang basah. Gerimis turun sedari tadi. Suasana begitu meriah, ada barongsai. Lalu lintas pun tersendat. Kami pergi menuju kelenteng, di sana ramai oleh pengunjung. Aku sangat menyukai lampion oranye yang bergelayut di atap kelenteng.

“Lalu bagaimana jawabannya?” matanya sejurus menatapku.

“Aku tidak bisa menjadi kekasihmu,” kusentuh pundaknya. “Aku tidak ingin kita terluka di kemudian hari. Tembok pembatas di antara kita terlalu kuat, aku tidak bisa melewatinya, kau juga tidak bisa menghancurkannya,” jawabku.

“Begitu…” dia menunduk saja.

Kugenggam tangannya. “Aku memang tidak bisa menjadi kekasihmu, itu bukan berarti aku tidak mencintaimu. Aku memikirkanmu setiap saat, merasakanmu di hatiku. Aku sayang kamu, Hamaki Tin.”

Kemudian aku memeluknya dengan erat. Aku sungguh menyayanginya, hingga sekarang di penghujung usia dua puluh tak berubah. Aku tetap memilikinya dalam kenangan. Kenangan yang indah, seindah cahaya oranye lampion.  

Cerpen ini pernah masuk buku antologi cerpen 'Lembar Memori Kehidupan'

About Author

Advertisement

Post a Comment

 
Top