![]() |
| Karya : Dita Rosa Utami |
Berkali kubunyikan
klakson agar orang-orang di depan minggir. Mereka memadati jalanan. Kepalaku
pusing, ditambah lagi suamiku menelepon berkali-kali. Dia seperti tak mengerti
kesibukan pegawai bank sepertiku. Dia suka protes kalau aku pulang terlambat.
Menyebalkan!
Ah, iya, baru kuingat ini malam imlek, wajar jika
daerah ini ramai. Aku berada di daerah Pondok, pemukiman warga Tionghoa di Kota
Padang. Mobilku benar-benar terhambat lalu lintas.
Di
luar sedang rinai, kulihat barongsai dan lampion berarak-arak. Kupinggirkan
mobil dan kumatikan mesinnya. Aku bersandar. Kulihat embun menebal di kaca
mobil, bibirku tersenyum, bersama cahaya oranye lampion aku terbang ke masa
itu, menuju dia yang masih menari di pikiranku.
Enam
tahun lalu aku menemukannya di facebook,
nama akunnya Hamaki Tin. Kutanya apakah dia orang Jepang, katanya tidak. Dia
orang Padang sama sepertiku. Aku tidak langsung percaya, karena matanya sipit
dan kulitnya putih bagai susu. Berhari-hari terus saja kuinterogasi dia karena
penasaran. Saat itu suasana hatiku sedang buruk, pacarku baru saja memutuskan
hubungan, demikian kucari hiburan lewat Hamaki.
Dia
mengaku risih karena terus kutanyai, ya sudah, kuputuskan tidak menginterogasi
dia lagi. Kemudian malah dia yang mencariku. Dia mulai mengirim pesan, menanyakan
kabarku, kegiatanku, dan alamatku. Aku kira dia sudah terjebak rindu.
Kami
jadi sering mengobrol. Aku tahu dia tinggal di daerah Pondok, dia keturunan
Tionghoa, tingginya 176 cm, ukuran sepatunya 42, dan kami satu universitas. Tapi,
kenapa aku tidak pernah melihat dia di kampus?
Tapi satu hal yang membuatku gondok, dia tidak
mau memberi tahu nama aslinya. Hamaki Tin, itu bukan nama aslinya. Alasan dia
memakai nama Hamaki Tin untuk username-nya
karena ia suka anime dan kartun Tin Tin.
Semester
baru menyapa, takdir kembali bermain-main, aku bahkan tidak bisa mempercayainya
sampai sekarang. Waktu itu kami mengambil kelas yang sama untuk satu mata
kuliah. Kelas yang sama bukan berarti semakin akrab, kami justru pura-pura
tidak saling kenal. Atau mungkin dia memang tidak mengenalku? Di sanalah aku
tahu kalau nama aslinya Daniel.
Ternyata
dia mengenalku, saat ulang tahunku Hamaki Tin menjadi orang pertama yang
memberi selamat. Tepat pukul nol nol. Mantan pacarku saja tidak peduli. Dia senang
karena kami satu kelas. Sejak itu hubungan kami makin dekat, kami bahkan sering
mengerjakan tugas bersama di rumahku. Tapi, sepertinya ayah tidak menyukainya,
aku disuruh jaga jarak dengan Daniel.
Aku
tidak mudah menyerah, kami tetap bersama. Dia baik dan perhatian, sering
memberiku cokelat, juga sering membuat lelucon yang mengocok perutku. Matanya
akan tenggelam saat dia tertawa. Aku suka matanya!
Sore
itu gerimis turun, kami jalan-jalan ke kelenteng. Sebelumnya aku pernah bilang
kalau aku penasaran dengan kelenteng di daerah Pondok, aku mau masuk ke sana.
Hamaki Tin mengambil sesuatu seperti lidi lalu mengipas-ngipaskan ke arah
patung dewa. Dia sedang berdoa. Sementara aku menonton saja dari ujung
kelenteng, duduk di lantai kayu cokelat.
Saat
itulah aku sadar jika Hamaki Tin sudah berada di hatiku. Aku tersenyum, tapi
ada ketidakmampuan yang besar di hati. Ini alasannya ayah menginginkan aku
menjauh dari Daniel. Meski kami sangat dekat, tembok keras itu menolak dengan
lantang.
Dia
duduk di sampingku usai berdoa. Bibirnya tersenyum, matanya menatap lembut
mataku, kemudian terucap kata-kata yang kutakuti.
“Aku
sayang padamu, Alina. Maukah kamu menjadi kekasihku?” Suaranya lembut
menggenggam jantungku. Aku diam saja, sampai dia bertanya berkali-kali.
“Aku
tidak akan jawab sekarang,” kataku.
“Oke.
Bisa aku mendengar jawabanmu saat malam imlek?” pintanya. Aku mengangguk.
Aku
memikirkan itu berhari-hari, memikirkan jawabanku. Aku tak mengelak tentang
rinduku untuknya, tentang alunan ambisi untuk dipeluknya, tentang keindahan
yang selalu mengikat waktu-waktu bersama Hamaki Tin. Hanya saja, aku pikir
tidak seharusnya aku mengenalnya. Keluargaku dan mungkin keluarganya tidak akan
menyetujui hubungan kami. Tidakkah dia pikirkan itu? Tidakkah Hamaki Tin
pikirkan perbedaan keyakinan di antara kami? Aku muslim sedangkan dia Buddha.
Bahkan
sebelum ini aku putus dengan pacarku setelah tiga tahun pacaran, hanya karena
aku suka pedas sedang dia suka kecap. Dia bilang kami tidak akan sanggup
menopang perbedaan semacam itu. Sederhana bukan?
***
Malam
imlek tiba, kami melangkah di jalanan yang basah. Gerimis turun sedari tadi. Suasana
begitu meriah, ada barongsai. Lalu lintas pun tersendat. Kami pergi menuju
kelenteng, di sana ramai oleh pengunjung. Aku sangat menyukai lampion oranye
yang bergelayut di atap kelenteng.
“Lalu
bagaimana jawabannya?” matanya sejurus menatapku.
“Aku
tidak bisa menjadi kekasihmu,” kusentuh pundaknya. “Aku tidak ingin kita
terluka di kemudian hari. Tembok pembatas di antara kita terlalu kuat, aku
tidak bisa melewatinya, kau juga tidak bisa menghancurkannya,” jawabku.
“Begitu…”
dia menunduk saja.
Kugenggam
tangannya. “Aku memang tidak bisa menjadi kekasihmu, itu bukan berarti aku
tidak mencintaimu. Aku memikirkanmu setiap saat, merasakanmu di hatiku. Aku sayang
kamu, Hamaki Tin.”
Kemudian
aku memeluknya dengan erat. Aku sungguh menyayanginya, hingga sekarang di
penghujung usia dua puluh tak berubah. Aku tetap memilikinya dalam kenangan.
Kenangan yang indah, seindah cahaya oranye lampion.

Post a Comment