![]() |
| Oleh : Mukhsin |
Chapter 1 - Tiga Preman Misterius
Dua belas tahun lamanya sebuah pendidikan wajib telah kulalui. Tiba saatnya bagi para orang tua untuk bertanya tentang bagaimana impian kita kedepannya. Tetapi saya, Lukmanul Hakim, hanya menjawab dengan jawaban yang singkat bahwa saya belum memikirkan hal itu. Sebuah hal normal yang di inginkan oleh orang sepertiku adalah masuk di universitas atau langsung mendapatkan pekerjaan yang bagus. Memiliki gaji tetap, rumah impian, dan mobil mewah. Begitulah sebuah pemahaman menjalani sebuah hidup yang normal.
Demi mencapai semua itu, saya selalu rajin kesekolah walaupun saya lebih senang di depan komputer seharian. Karena saya tidak ingin membuat kecewa orang tua saya, dan saya ingin buat mereka bangga dengan semua yang saya lakukan.
Jika mereka ingin saya menjadi seorang pemimpin negara, maka saya sudah tertinggal jauh dengan mereka yang mempunyai segudang uang. Jika mereka ingin saya menjadi seorang pemimpin perusahaan, maka saya juga sudah tertinggal jauh dengan mereka yang memiliki akademik bagus. Sebuah sistem penialaian yang kadang membuat saya muak.
Demikian dengan cinta, orang tua saya memberikan kebebasan kepada saya dengan siapa saya akan menikah nantinya. Seorang wanita yang saya cintai sendiri, bukan yang mereka cintai. Kata ayah saya “fokus dengan pendidikanmu, kelak saat kau sukses, para wanita akan berlutut di hadapanmu”. Masalahnya saya belum terlalu yakin untuk menjadi seorang yang sukses nantinya.
Untuk seseorang sepertiku yang tidak bisa mengungkapkan perasaan terhadap orang yang kucintai. Cinta tidak akan memberi kebahagiaan, hanya akan ada penyiksaan tehadap cinta yang bertepuk sebelah tangan. Hingga akhirnya akan menenggalamkanku di dalam neraka.
“Lukmaaan…” sahut ibuku dari dalam rumah.
“Saya lagi nunggu ayah bu…” jawabku.
“Sudahlah, masuk. Sekarang sudah larut malam, mungkin dia lagi sibuk dengan pekerjaannya atau dia sedang menginap di rumah pak Wahab teman ayahmu itu” kata ibuku.
Saya hanyadiam, mengabaikan ucapan orang tua saya. Beberapa hari belakangan ini, saya sering merasakan keganjalan dalam hatiku, sebuah perasaan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Jika difikir ini semacam gejala indra keenam. Banyak kejadian buruk yang terlihat, dan semua itu menimpa saya atau itu semua hanya halusinasi sebab ketakutanku akan masa depan.
Tepat tengah malam, saya masih saja terus menunggu ayahku di depan rumah. Ibu dan kedua adikku sudah terlelap dengan begitu nyenyaknya. Perasaan saya tidak enak tentang ayahku. Tak pernah sebelumnya dia pulang selarut ini. Nomor handphonenya juga tidak aktif, tak ada kabar sama sekali. Saya takut, saya tak tahu harus melakukan apa.
Keesokan harinya kepalaku pusing akibat kurang tidur, tapi mau bagaimana saya harus menemui ayahku sekarang. Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan padanya. Saya terpogoh-pogoh ke kantornya. Hingga sarapan dan mandi pun aku tak sempat.
Ayahku bekerja di kantor kejaksaan. Dia bukan jaksa, hakim, atau notaris, tapi dia hanya bekerja menjadi seorang tukang sapu di kantor tersebut. Pekerjaan yang bagi saya lebih mulia dibandingkan dengan para pegawainya. Saya terus-terussan berlari, kuharap dia sedang sibuk membersihkan halaman kator atau dia sedang tertidur di depan kantor tersebut.
Tak lama kemudian saya sampai di kantor tersebut. Suasana di kantor juga masih sepi, tak terlihat batang hidungnya sama sekali. Saya bertanya kepada salah seorang satpam disana, tapi ayahku tak juga ada kabar sama sekali. Saya kemudian mencari ke bagian kantin, disana kulihat pak Wahab teman ayahku itu yang sedang sarapan. Kebetulan dia lagi sendiri. Saya pun mulai menghampirinya.
“Pak mau nanya, ayah saya dimana ?” tanyaku.
“Pak Lukman ?” tanya balik. Nampaknya dia belum terlalu kenal dengan saya.
“Iya, bapak tahu ayah saya dimana ?”
“Ummm… Terakhir kali saya lihat kemarin siang, dia pergi menuju ruangan pak Ario”
“Siapa itu pak Ario ?” tanyaku polos.
“Dia itu adalah seorang hakim agung di kantor ini, tapi kalau kamu bertemu dengan dia, cukup…” belum habis ucapan pak Wahab, saya langsung berlari mencari orang yang bernama pak Ario itu.
Sekitar satu jam lamanya saya duduk di depan kantor tersebut, belum ada satupun orang yang bernama pak Ario. Saya kemudian mengelilingi kantor ini, namun tetap tidak membuahkan hasil. Sejenak saya beristirahat tepat di depan toilet. Melepas sebagian lelah yang ada. Sebelum saya memutuskan untuk mencari pak Ario kembali, tiba-tiba ada sesosok bayangan yang mendekat. Rupanya salah satu jaksa di kantor ini. Dia kemudian masuk kedalam toilet. Sepintas kulihat nama di dadanya Surya Ariobimo Hartanto. Beliau berkulit legam, perutnya buncit, tinggi, dan berwajah garang. Sempat saya mencurigai nama Ario tersebut, mungkin dialah orang yang kucari.
Saya menunggu sekian lama, bersabar. Entah apa yang dia lakukan di toilet selama itu. Bunyi percikan air kelantai terus-menerus terdengar samar-samar. Saya terus memasang telinga dengan baik. Sejenak semua suara itu hilang. Saya semakin mendekat, rasa penasaran saya meningkat.
Pintu toilet kemudian di bukanya, saya sontak kaget karena hampir saja saya ketahuan memata-matainya. Rupanya refleks bapak tersebut sama denganku, dia juga tampak terkejut. Sepintas mata kami bertatapan, tak ada sedikit senyum yang di berikannya. Rupanya dia sama sekali tidak peduli dengan keberadaan saya. Sekali lagi saya memperhatikan namanya, benar tertulis Surya Ariobimo Hartanto.
Dia kemudian menjauh dan meninggalkan saya. Demi rasa penasaran saya, saya tidak mau kehilangan jejak dia. Saya kemudian mengikutinya dari belakang. Dan sekali lagi, dia sama sekali tidak peduli dengan saya.
Dari kejauhan, saya memperhatikan dia masuk ke dalam ruangan. Sekali lagi di depan pintu rungan itu jelas tertulis Surya Ariobimo Hertanto. Rupanya itu adalah ruangan pribadi miliknya.
Saya memantapkan mental untuk langsung bertemu dengannya. Tapi dengan tampangku seperti ini, saya sama sekali tak pantas untuk bertemu langsung di ruangannya. Jadi saya memutuskan untuk menunggu hingga dia keluar kembali.
Selama menunggunya perutku mulai kelaparan, cacing-cacing dalam perutku sudah meronta-ronta ingin sarapan. Saya juga sama sekali tidak mebawa uang untuk membeli makanan. Perasaanku sudah mulai tidak enak. Serasa lemas di seluruh tubuhku. Tapi saya terus memaksakan diri untuk bertemu dengan pak Ario.
Tiga orang lelaki kemudian datang duduk di sebelah saya. Para lelaki itu besar dan sepintas saja saya tahu bahwa mereka adalah langganan jaruji besi. Tatto yang di buat untuk menyatakan bahwa mereka adalah seorang jagoan memenuhi tubuh mereka, dan juga bekas luka yang terdapat di wajah mereka mempertagas bahwa mereka itu adalah orang-orang jahat.
Baru saja saya ingin menjauh dari mereka, tiba-tiba salah satu dari mereka membuka sebuah percakapan.
“Hei, apa yang kamu lakukan disini ?” tanyanya.
“Saya sedang menunggu pak Ario” jawabku gemetar.
“Pak Ario ?Ada urusan apa kau ingin bertemu dengan beliau ?”
“Saya ingin menyanyakan ayah saya, pak Lukman” jawabku sedikit percaya diri.
Dia hanya mengangguk seolah paham dengan kata saya. Rupanya mereka sudah mengenal pak Ario dan ayah saya. Sempat ada kecurigaan di dalam benak saya kepada preman-preman ini. Tapi siapa yang peduli, orang seperti mereka hanya akrab dengan tindakan kriminal, polisi dan jeruji besi.
Bersambung...

Post a Comment