![]() |
| Karya : Ulfa Annisa (Cerpen ini pernah dimuat dalam antologi cerpen 'Di Bawah Pohon' oleh Nunu Publisher) |
Angin musim hujan meniup rambutku sehingga tatanannya yang semula rapi menjadi berantakan, aku berhenti sejenak membenarkan tatanan surai hitamku dan juga bando yang kukenakan.
Aku berjalan di sepanjang trotoar, kota Bandung terlihat sepi, semua orang mungkin sedang menikmati musim hujan dengan secangkir teh hangat di istana masing-masing. Apa aku sudah mengatakan tujuan langkah kakiku sekarang apa? Belakang Sekolah, tepatnya di bawah Pohon Maple.
Ya, aku ke sana karena panggilan seorang pria bertubuh tinggi dan kulit sawo matang. Tapi apa kalian tahu dia seperti kulkas dan aku membenci itu.
Aku sudah sampai di belakang sekolah, bisa kulihat seorang pria sedang duduk di bawah Pohon maple dengan memakai sweater berwarna maroon dipadukan dengan jeans berwarna baby blues. Aku perlahan mendekatinya.
Dan kurasakan aku sudah duduk di sebelahnya. Aku menatap wajahnya dari samping dia sama sekali tidak melirikku. Dia fokus membaca Novelnya. Sekolah memang sepi karena ini hari minggu, hanya anak yang mengikuti ekstrakulikuler drama saja yang sekolah.
Aku tahu sekarang bahwa mataku mulai memanas. Aku terus menahan bulir kristal ini agar tidak jatuh. Aku menggenggam erat jaketku agar rasa takut dibenakku bisa tersalur pada jaket ini.
“Kenapa ingin menemuiku?” Aku mulai membuka pembicaraan
“Kamu tahu kan alasanku?” dia menutup novelnya dan langsung menatap lurus ke depan, sedangkan aku hanya menundukkan kepalaku.
Tunggu! Belum aku katakan bahwa kami adalah sepasang kekasih. Tapi hubungan kami retak karena Kenza melihatku pulang menaiki motor matic bersama teman sekelasku, Evan. Saat itu aku memeluk pinggang Evan.
Sebenarnya aku sengaja melakukan itu. Semua kulakukan untuk melihat apakah Kenza benar-benar mencintaiku. Jika dia benar mencintaiku kenapa sikapnya seperti es batu.
“Kamu nggak percaya kalau aku mencintaimu?”
Aku mendongak mendengar kata-kata yang diucapkan Kenza. Jadi dia sudah tahu alasanku memeluk Evan.
“Bukan begitu Kenza, aku…”
“Apa?!” dia memotong ucapanku.
Baiklah aku tidak akan berbohong kali ini. Aku berdiri dan mensejajarkan posisi kami.
“Baiklah, semua yang aku lakukan sengaja. Aku nggak tahan dengan sikap kamu. Kamu itu dingin, kaku, terlalu serius! Kamu berubah jadi batu kalau sama aku. Kulihat saat kamu sama teman kamu, kamu bisa ketawa lepas. Tapi… kenapa sama aku, kamu selalu diam. Bahkan, kamu sering ninggalin aku. Apa aku salah kayak gini? Apa kamu cuma manfaatin aku? Kamu lebih dingin dari kulkas!”
Aku memegang dadaku dan mulai mengatur napas. Butiran Kristal itu akhirnya lolos dari pelupuk mataku. Semua yang aku pendam sudah aku keluarkan. Sekarang aku menangis. Apa selanjutnya? Apa aku harus pergi?
Aku mulai melangkah.
“Kalau kamu mau hubungan kita berakhir, ya udah kita akhiri!” kataku dengan nada suara melemah.
Aku sudah berjalan menjauh beberapa langkah. Sungguh aku ingin melihat ke belakang, tapi tidak untuk semua yang aku ucapkan.
“Tunggu!” Kenza menahan tanganku. “Maafkan aku…” tambahnya.
Dia membalikkan badanku. Kedua tangannya memegang bahuku, dan mata hitamnya menatap ke dalam manik mataku.
“Aku nggak mau hubungan kita berakhir. Jadi, jangan ngomong kayak gitu lagi! Aku sayang banget sama kamu. Tolong, maafin aku!” jelas Kenza dengan matanya yang mulai berkaca.
Material lembut menyentuh keningku dalam sekejap. Dan sekarang dia memelukku hangat.
“Aku sayang kamu, Yuri.”
TAMAT

Post a Comment